NAMA: WINDA ALVIONITA SIANTURI
NPM : D1C016021
PRODI : JURNALISTIK (16)
JURNALISTIK
ONLINE
PENGERTIAN
JURNALISTIK ONLINE
Jurnalistik
online adalah peliputan, penulisan, dan penyebarluasan berita melalui internet,
situs web (website) ataumedia online. Jurnalistik online adalah “format
kontemporer jurnalisme” dengan mendistribusikan konten editorial melalui
internet, bukan publikasi melalui media cetak atau penyiaran (radio/televise).
Jurnalistik
online merupakan jurnalis generasi ketiga. Jurnalistik generasi pertama adala
jurnalistik cetak, yang menyajikan berita melalui media cetak seperti surat
kabar atau majalah. Jurnalisme generasi kedua adalah jurnalisti elektronik,
yang menyajikan berita dalam media elektronik seperti radio atau televisi. Jurnalistik
online sering disebut juga sebagai Jurnalis Internet (Internet Journalism),
Jurnalis Website (Web Journalism), Jurnalis Digital (Digital
Journalism), Jurnalis Siber (Cyber Journalism), atau juga Jurnalis
Judul (Heading Journalism).
PRINSIP
JURNALISTIK ONLINE
Menurut Paul Bradshaw ada lima prinsip dasar jurnalistik online, yang
disingkat dengan BASIC, yaitu Brevity – Adaptabillity – Scannabillity –
Interactivity – Community. Lebih jelasnya sebagai berikut:
1. Brevety
(Ringkas)
Tulisan harus dibuat seringkas
mungkin, tidak panjang dan bertele – tele. Sebaiknya tulisan panjang, diringkas
menjadi beberapa tulisan pendek agar dapat dibaca dan dipahami dengan cepat.
Istilah umumnya, Keep It Short and Simple (kiss).
2.
Adaptabillity (mampu beradaptasi)
Dalam menyajikan berita/ informasi,
jurnalis harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi di bidang
komunikasi. Jadi bukan hanya menulis berita, jurnalis jug dituntut untuk mampu
menyajikan berita dengan keragaman cara penyajian. Bukan hanya tulisan, tapi
juga disertai dengan gambar, atau bisa juga disajikan dalam format video atau
suara. Jurnalis harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan preferensi
pembaca.
3.
Scannabillity (dapat dipindai)
Situs/ laman web jurnalisme dituntut
untuk memiliki sifat dapat dipindai, untuk memudahkan penbaca. Sebab sebagian
besar pengguna situs tersebut melakukan pencarian secara spesifik, dengan
memindai halaman web. Pembaca akan mencari informasi utama, subheading,
link, dll untuk membantu menavigasi text, sehingga tidak perlu melihat monitor
dalam waktu yang lama. Oleh sebab itu penentuan judul berita sangat pentig
dalam menarik minat pembaca, terutama dua kata pertama pada judul.
4.
Interactivity (interaktivitas)
Pembaca dibiarkan menjadi pengguna,
dalam artian memberikan keleluasaan pada pembaca untuk memberikan tanggapan,
atau komunikasi lainnya pada jurnalis melalui laman situs tersebut. Dengan
begitu pembaca akan merasa bahwa dirinya dilibatkan dan dihargai, sehingga
mereka semakin merasa senang membaca situs tersebut.
5. Community
and Conversation (komunitas dan percakapan)
Pembaca media online tidak hanya
bersifat pasif dalam membaca berita, seperti ketika membaca berita pada Koran
atau televisi. Sebab media Online memungkinkan pengguna untuk melakukan
percakapan – percakapaan pendek untuk menanggapi isi berita, misalnya melalui
kolom komentar. Sebagai timbal baliknya, jurnalis juga harus menanggapi
interaksi dari pembaca tersebut, sehingga tercipta komunitas dan percakapan
didalamnya.
KARAKTERISTIK
JURNALISTIK ONLINE
Media online memiliki banyak
perbedaan dibandingkan dengan media cetak dan elektronik, sehingga jurnalistik
online memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan jurnalisme
konvensional. Berikut beberapa karakteristik jurnalisme online:
1.
Audience Control
Dalam jurnalistik online, audiens
(pembaca, pengguna, atau pengunjung situs) diberi keleluasaan untuk memilih
berita/ informasi yang diinginkannya sendiri. Dengan begitu audiens dapat
terlibat langsung untuk menentukan urutan bacaan dari mana lalu ke bacaan mana.
Dari topik mana ke topic mana, bahkan loncat tahun. Audiens tidak hanya pasif
menerima struktur/ urutan berita dari penerbit seperti pada media konvensional.
2.
Immediacy
Dalam jurnalistik online, setiapkali
berita di posting, maka berita itu akan langsung bisa diakses, dibaca oleh
audiens dari seluruh dunia. Waktu yang diperlukan untuk menyampaikan berita
tersebut jauh lebih cepat dibandingkan media konvensional yang memerlukan
proses pencetakan dan pengiriman seperti Koran. Informasi/ berita tersebut juga
dapat langsung diakses oleh penggunanya, tanpa perlu perantaraan pihak ketiga.
3.
Multimedia Capability
Media online memungkinkan jurnalis
menggunakan berbagai cara dalam penyajian berita. Berita dapat disajikan
dalam bentuk teks, suara, gambar, video, atau komponen lainnya sekaligus.
4.
Nonlienarity
Berita-berita yang disajikan oleh
jurnalistik online bersifat independen. Setiap berita dapat berdiri sendiri,
sehingga audiens tidak harus membaca seluruh rangkaian berita secara
berurutan untuk dapat memahami isi berita.
5. Storage
and retrieval
Media online memungkinkan karya para
jurnalis online tersimpan secara “abadi” sehingga audiens dapat dengan mudah
diakses kembali kapanpun audiens mau. Jika ingin, audiens juga dapat
menyimpannya sendiri.
6.
Unlimited Space
Dalam jurnalistik online, ruang
bukan masalah. Halaman (page) tempat Informasi/ berita disajikan tak terbatas
ukuran serta jumlah, sehingga artikel dapat dibuat sepanjang dan selengkap
mungkin untuk memenuhi kebutuhan pengguna.
7.
Interactivity
Jurnalistik online memungkinkan
terjadinya interaksi langsung antara audiens dengan berita/ informasi yang
dibaca, termasuk juga redaksi (wartawan), seperti melalui kolom komentar atau
sosial media.
MEDIA CETAK
PENGERTIAN MEDIA CETAK
Kata ‘media’ memiliki asal
dari kata ‘medius’ yang artinya ‘pengantar’ atau ‘perantara’. Sehingga bisa
dikatakan bahwa media adalah wahana penyaluran pesan atau penyalur informasi.
Menurut Eric Barnow media cetak
adalah segala barang yang dicetak yang ditujukan untuk umum. Sehingga yang
dimaksud media cetak yaitu majalah, surat kabar dan berbagai bentuk barang cetakan
yang tujuannya dibuat untuk menyebarkan informasi atau pesan komunikasi.
JENIS
MEDIA CETAK
Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika membuat pengelompokan jenis-jenis media cetak di indonesia, pada dasarnya media cetak berupa bentuk surat kabar, majalah dan buletin, yang kemudian jika dibagi lagi ada delapan jenis media cetak, berikut di bawah ini:
1. Surat Kabar Harian, terbit dalam setiap hari, isinya berupa informasi terkini (berita). Surat kabar harian sering disebut koran. Cara penulisannya apa adanya, atau bisa dikatakan ala kadarnya.
2. Surat Kabar Mingguan, umumnya dikenal dengan nama tabloid. Bentuk isinya berupa berita hiburan atau liputan mendalam. Gaya tulisannya lebih deskriptif dan lebih lengkap jika dibandingkan koran.
3. Majalah Mingguan, yang terbit sekali dalam seminggu. Isinya berupa liputan yang mendalam atau tentang suatu peristiwa.
4. Majalah Tengah Bulanan, terbit dua kali dalam sebulan. Isinya berupa berita yang dibuat lebih informatif. Umumnya isinya berupa gaya hidup.
5. Majalah Bulanan, terbit satu kali dalam sebulan. Isinya berupa berita atau informsai yang diperoleh dari hasil penelitian.
6. Majalah Dwibulanan, terbit sekali dalam dua bulan. Umumnya isinya berupa informasi tentang laporan dari hasil aktivitas sesuatu. Contohnya, laporan pendapatan sebuah perusahaan dan lainnya.
7. Majalah Tribulanan, terbit setiap tiga bulan sekali. Isinya semodel dengan majalah dwibulanan
8. Bulletin, merupakan media cetak yang dibuat untuk kelompok atau kalangan tertentu (luar lingkupnya terbatas). Secara fisik, biasanya hanya dibuat beberapa halaman saja. Pembuatan buletin umumnya tidak untuk kepentingan komersial.
Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika membuat pengelompokan jenis-jenis media cetak di indonesia, pada dasarnya media cetak berupa bentuk surat kabar, majalah dan buletin, yang kemudian jika dibagi lagi ada delapan jenis media cetak, berikut di bawah ini:
1. Surat Kabar Harian, terbit dalam setiap hari, isinya berupa informasi terkini (berita). Surat kabar harian sering disebut koran. Cara penulisannya apa adanya, atau bisa dikatakan ala kadarnya.
2. Surat Kabar Mingguan, umumnya dikenal dengan nama tabloid. Bentuk isinya berupa berita hiburan atau liputan mendalam. Gaya tulisannya lebih deskriptif dan lebih lengkap jika dibandingkan koran.
3. Majalah Mingguan, yang terbit sekali dalam seminggu. Isinya berupa liputan yang mendalam atau tentang suatu peristiwa.
4. Majalah Tengah Bulanan, terbit dua kali dalam sebulan. Isinya berupa berita yang dibuat lebih informatif. Umumnya isinya berupa gaya hidup.
5. Majalah Bulanan, terbit satu kali dalam sebulan. Isinya berupa berita atau informsai yang diperoleh dari hasil penelitian.
6. Majalah Dwibulanan, terbit sekali dalam dua bulan. Umumnya isinya berupa informasi tentang laporan dari hasil aktivitas sesuatu. Contohnya, laporan pendapatan sebuah perusahaan dan lainnya.
7. Majalah Tribulanan, terbit setiap tiga bulan sekali. Isinya semodel dengan majalah dwibulanan
8. Bulletin, merupakan media cetak yang dibuat untuk kelompok atau kalangan tertentu (luar lingkupnya terbatas). Secara fisik, biasanya hanya dibuat beberapa halaman saja. Pembuatan buletin umumnya tidak untuk kepentingan komersial.
OPINI DAN KESIMPULAN
Seperti disinggung sedikit
diatas, bahwa media cetak memiliki ‘pesaing’ yaitu media digital dan media
eletronik. Adapun media cetak sekarang sudah dinilai ‘usang’ karena kondisi
perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Dimana dahulu media cetak sangat berjaya yang menguasai semua konsumen, tetapi sekarang orang-orang banyak yang lebih suka mengambil informasi atau berita di internet.
Alhasil ‘penggemar’ media cetak pun semakin berkurang. Sehingga kita saksikan sendiri betapa banyak dahulu perusahaan yang berkecimpung di dunia media cetak (seperti koran), tetapi sekarang banyak yang gulung tikar alias bangkrut.
Kekalahan media cetak ada beberapa faktor, yang pertama karena harga produk media cetak lebih mahal bagi konsumen, dimana di dunia digital saat ini seseorang hanya membutuhkan koneksi internet yang harganya jauh lebih mudah untuk mendapatkan informasi.Faktor lainnya karena media digital jauh lebih cepat dalam penyampaian informasi daripada media cetak.
Disamping itu faktor tren teknologi canggih dimana sekarang semakin banyak orang yang memiliki gadget, semakin menggerus keberadaan media cetak seperti koran dan majalah.
Dimana dahulu media cetak sangat berjaya yang menguasai semua konsumen, tetapi sekarang orang-orang banyak yang lebih suka mengambil informasi atau berita di internet.
Alhasil ‘penggemar’ media cetak pun semakin berkurang. Sehingga kita saksikan sendiri betapa banyak dahulu perusahaan yang berkecimpung di dunia media cetak (seperti koran), tetapi sekarang banyak yang gulung tikar alias bangkrut.
Kekalahan media cetak ada beberapa faktor, yang pertama karena harga produk media cetak lebih mahal bagi konsumen, dimana di dunia digital saat ini seseorang hanya membutuhkan koneksi internet yang harganya jauh lebih mudah untuk mendapatkan informasi.Faktor lainnya karena media digital jauh lebih cepat dalam penyampaian informasi daripada media cetak.
Disamping itu faktor tren teknologi canggih dimana sekarang semakin banyak orang yang memiliki gadget, semakin menggerus keberadaan media cetak seperti koran dan majalah.
Komentar
Posting Komentar